Efek Negatif Alkohol: Pengaruh Alkohol pada Sistem Saraf

Amazine.co | Online Popular Knowledge

minuman alkohol


Alkohol merupakan produk fermentasi buah-buahan, biji-bijian, dan madu.

Dalam proses fermentasi, ragi digunakan untuk mengubah gula menjadi alkohol.

Alkohol digunakan untuk berbagai keperluan seperti sebagai obat penenang, pembersih, dan agen antiseptik.

Minuman beralkohol telah dikonsumsi oleh manusia mulai dari periode prasejarah.

Jumlah besar konsumsi alkohol bisa menyebabkan keracunan dan mabuk.

Asupan rutin alkohol dalam dosis tinggi menyebabkan berbagai efek jangka pendek sekaligus jangka panjang pada berbagai bagian tubuh seperti struktur tulang, darah, hati, lambung, pankreas, jantung, jaringan perifer, dan mulut.

Konsumsi alkohol rutin atau dalam jumlah tinggi menyebabkan gangguan serius pada sistem saraf pusat.

Efek Jangka Pendek

Alkohol mempengaruhi sistem saraf dengan menghambat distribusi sinyal antara saraf tulang belakang dengan otak.

Alkohol diserap oleh darah yang pada akhirnya mempengaruhi saraf sehingga memicu mati rasa.

Terdapat dua sistem tubuh manusia yaitu sistem sadar dan sistem tidak sadar.

Sistem sadar mengontrol pergerakan otot, sedangkan sistem tidak sadar mengontrol fungsi lain seperti denyut jantung dan sinyal-sinyal listrik yang melintas dari otak melalui neuron.

Sistem tubuh tidak sadar akan terpengaruh terutama jika seseorang mengkonsumsi alkohol secara berlebih.

Alkohol merupakan depresan yang menekan kinerja sistem saraf pusat.

Alkohol juga dikenal meningkatkan aktivitas ‘asam gamma aminobutyric’ (GABA) dan melemahkan ‘glutamin’.

Akibatnya, koordinasi tubuh seseorang menjadi tumpul. Kurangnya koordinasi dan perilaku yang tidak terkontrol merupakan efek paling terlihat ketika seseorang mabuk.

Efek Jangka Panjang

Konsumsi jangka panjang alkohol bisa mengakibatkan efek yang berbahaya.

Sel-sel menjadi semipermeabel atau berubah lebih tebal akibat konsumsi alkohol.

Sel-sel yang tidak sehat ini akhirnya berkontribusi dalam melemahkan sistem saraf.

Tingkat toleransi seseorang yang tinggi terhadap alkohol membuatnya lebih rentan terhadap berbagai macam infeksi.

Konsekuensi berat seperti serangan jantung, stroke, dan demensia berpotensi terjadi.

Konsumsi alkohol kronis atau bertahap menyebabkan kecanduan minuman beralkohol.

Gejala khas kecanduan akan meliputi panik, kecemasan, tremor, mual, dan gangguan tidur.

Alkohol juga akan merusak kedua lobus frontal, sekaligus mengurangi berat dan ukuran otak.

Kecanduan alkohol akan membuat seseorang kekurangan vitamin. Alkohol membuat tubuh gagal menyerap vitamin B-1 (thiamine).

Sindrom ini dikenal sebagai ‘ensefalopati Wernicke’ yang menyebabkan kurangnya koordinasi, gangguan penglihatan, ingatan jangka pendek, dan kebingungan.

Alkohol menunjukkan dampak pula pada formasi reticular, sumsum tulang belakang, cerebral cortex, dan otak kecil.

Alkohol akan terlarut dalam lipid yang memicu berbagai efek neurokimia.

Efek neurokimia yang timbuk diantaranya meningkatkan aktivitas neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin.

Alkohol juga meningkatkan produksi beta-endorphin, yang merupakan agen anti-nyeri.

Efek alkohol tergantung pada usia, jenis kelamin, kondisi fisik, dan faktor lainnya.

Berikut ini adalah efek alkohol dalam berbagai kondisi:

- Konsumsi Rendah

Kuantitas rendah alkohol akan mengurangi ketegangan, melemaskan otot-otot, menurunkan refleks, dan juga mengurangi waktu reaksi dan koordinasi.

- Konsumsi Medium

Konsumsi medium alkohol menyebabkan mengantuk dan perubahan suasana hati.

- Konsumsi Tinggi

Konsumsi tinggi alkohol menyebabkan kesulitan bernapas, kadang-kadang bahkan kegagalan napas, muntah, serangan panik, tidak sadar, kadang-kadang menyebabkan koma, dll.[]

Tags: , , , , ,

Kategori: Kesehatan

Jangan ketinggalan:
Hand with pen drawing the chemical formula of cortisol
Gejala, Penyebab & Pengobatan Kadar Kortisol Rendah

vitamin-e
Tips Aman Vitamin: Mengenal Gejala Kekurangan Vitamin E

Close