Aritmia Jantung: 3 Jenis & 5 Cara Menangani Fibrilasi Atrium

Amazine.co | Online Popular Knowledge

aritmia jantung


Fibrilasi atrium (atrial fibrillation) adalah kondisi dimana jantung berdetak cepat dan tidak teratur yang menyebabkan penurunan aliran darah ke dalam tubuh.

Gangguan irama jantung menyebabkan detak jantung tidak teratur pada sinus node.

Selama fibrilasi atrium, bilik jantung atrium bagian atas kehilangan irama normal.

Irama bilik jantung bagian atas yang abnormal menyebabkan bilik jantung bagian bawah berdetak tidak teratur.

Akibatnya, detak jantung menjadi lebih cepat dan tidak teratur yang disebut sebagai aritmia.

Penanganan fibrilasi atrium akan bergantung pada kondisi kesehatan pasien serta ada tidaknya penyebab lain.

Ada tiga jenis fibrilasi atrium yaitu:

1. Fibrilasi atrium paroksismal (paroxysmal atrial fibrillation)

2. Fibrilasi atrium persisten (persistent atrial fibrillation)

3. Fibrilasi atrium permanen (permanent atrial fibrillation)

Seseorang yang menderita fibrilasi atrium biasanya akan menampakkan beberapa gejala.

Gejala-gejala tersebut diantaranya adalah jantung berdebar-debar (palpitasi jantung), pusing, nyeri dada, dan sesak napas.

Jantung mulai memompa darah lebih sedikit dan lebih cepat. Hal ini menyebabkan darah berkumpul di pembuluh darah vena paru-paru.

Pada banyak kasus, kondisi ini terjadi karena tekanan darah tinggi.

Fibrilasi atrium juga bisa terjadi pada orang dengan kardiomiopati, penyakit perikardial, atau masalah katup jantung.

Kondisi lain seperti hipertiroidisme, emboli paru, obesitas, serta alkoholisme kronis juga dapat menyebabkan kondisi fibrilasi atrium.

Cara Penanganan Fibrilasi Atrium

Pada sebagian besar kasus, pasien tidak menunjukkan gejala atau komplikasi kesehatan akibat fibrilasi atrium.

Namun, fibrilasi atrium perlu segera ditangani karena dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah.

Bekuan darah yang terbentuk bisa mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kardiomiopati, bahkan gagal jantung.

Beberapa metode penanganan yang dapat dipertimbangkan diantaranya sebagai berikut:

1. Obat-obatan

Dokter mungkin menyarankan penggunaan obat pengencer darah untuk menghindari pembentukan bekuan darah.

Bersama dengan obat-obatan tersebut, dokter akan meresepkan salah satu dari dua obat untuk fibrilasi atrium.

Salah satu dari obat-obatan ini berfungsi mencegah fibrilasi atrium, sedang yang lainnya membantu mengontrol detak jantung selama fibrilasi atrium.

Beberapa obat yang berfungsi membantu mencegah terjadinya fibrilasi atrium diantaranya adalah propafenone, flecainide, sotalol, dan dofetilide.

Sedangkan propranolol, metoprolol, atenolol, dan verapamil merupakan obat-obatan yang membantu mengontrol kecepatan detak jantung selama fibrilasi atrium.

Seorang pasien bisa jadi diresepkan kedua jenis obat tersebut atau hanya diberikan salah satunya saja.

Tetap harus diingat bahwa obat-obatan ini mungkin memiliki efek samping.

Selain itu, obat-obatan tersebut hanya membantu mengendalikan gejala fibrilasi atrium saja, bukan menyembuhkannya.

Artinya, setelah berhenti mengonsumsi obat, fibrilasi atrium bisa muncul kembali.

2. Electrical Cardioversion

Electrical cardioversion merupakan prosedur dimana kejutan listrik disalurkan ke dinding dada.

Kejutan listrik ini membantu pemulihan irama jantung pada pasien dengan fibrilasi atrium.

Prosedur ini hanya membantu jika pasien baru menderita fibrilasi atrium selama beberapa bulan.

Jika keluhan telah terjadi dalam jangka panjang, ada kemungkinan kondisi ini akan muncul kembali setelah pengobatan berhasil dilakukan.

Sebelum melakukan prosedur electrical cardioversion, pasien akan diberikan pengencer darah terlebih dahulu.

Tanpa diberikan pengencer darah, bekuan darah bisa mengalir ke luar jantung yang bila mencapai otak akan menyebabkan stroke.

Pada beberapa kasus, dokter akan menunggu hingga 4 minggu setelah resep warfarin (pengencer darah) diberikan sebelum melakukan prosedur ini.

3. AV Node Ablation

Pasien yang menderita detak jantung cepat dan tidak teratur yang disertai sesak napas, pusing, dan intoleransi olahraga, disarankan melakukan AV node ablation sebagai penanganan.

Prosedur ini hanya diperlukan bagi pasien yang tidak menunjukkan perbaikan dengan obat-obatan.

Pada prosedur pembedahan ini, kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah di daerah pangkal paha dan mencapai AV node jantung.

Energi frekuensi radio kemudian dilewatkan melalui kateter untuk membantu menghancurkan AV node sehingga detak jantung kembali teratur.

Namun, ini akan menyebabkan denyut nadi turun hingga 30 denyut per menit.

Oleh karena itu, pasien memerlukan implantasi alat pacu jantung untuk mempertahankan irama jantung normal.

4. Alat Pacu Jantung (Pacemaker)

Alat pacu jantung (pacemaker) adalah sebuah perangkat elektronik yang ditanamkan di bawah kulit dada bagian atas.

Perangkat ini terhubung dengan beberapa kabel yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah.

Alat pacu jantung diletakkan tepat di atas jantung dan mengirimkan impuls listrik ke jantung dari waktu ke waktu.

Baterai sebuah alat pacu jantung bisa berfungsi sampai sekitar 6 tahun. Tingkat keberhasilan dari implantasi alat pacu jantung mencapai 99%.

Prosedur ini sangat berguna untuk mengurangi gejala denyut jantung cepat dan tidak teratur.

5. Operasi Jantung Terbuka (Open Heart Surgery)

Fibrilasi atrium dapat dihilangkan secara total dengan melakukan operasi jantung terbuka (open heart surgery) atau operasi Maze.

Dokter bedah akan melakukan insisi (sayatan) untuk mencapai jantung melalui ujung bawah sternum.

Setelah dilakukan berbagai prosedur termasuk insisi, pembekuan, dan cauterizaton, fibrilasi atrium bisa dihilangkan.

Tingkat keberhasilan prosedur ini mencapai 90%.

Pasien yang hanya menderita fibrilasi atrium disarankan untuk menjalani prosedur pembedahan mini-Maze.

Operasi kecil ini akan membantu memperbaiki penyebab yang memicu terjadinya fibrilasi atrium.[]

Tags: , , , , , ,

Kategori: Kesehatan, Kondisi & Penyakit